📢Tersedia Free Ongkir & Bayar di Tempat
Sore biasanya waktu paling jinak di Inderagiri Hilir.
Panas sudah turun. Aktivitas mulai melambat. Orang-orang bersiap pulang.
Tapi sore itu berbeda.
Sekitar pukul empat, ketika matahari belum sepenuhnya condong, dentuman keras terdengar dari arah jalur pipa gas PT Trans Gas Indonesia (TGI). Bukan bunyi yang bisa diabaikan. Bukan pula suara biasa. Itu suara yang membuat orang spontan berhenti, menoleh, dan bertanya dalam hati: apa itu?
Tak lama, api terlihat menyembur. Tinggi. Terang. Mengejutkan.
Bukan api kecil. Ini api dari gas—yang kita tahu, tidak pernah ramah.
Orang-orang yang berada di sekitar lokasi tidak sempat berpikir panjang. Ada yang berlari. Ada yang terpaku. Ada pula yang terluka. Sepuluh orang tercatat menjadi korban, sebagian mengalami luka bakar. Mereka tidak sedang bekerja di industri besar. Mereka hanya berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah.
Inilah risiko yang sering tidak kita sadari:
pipa gas itu diam, tapi berbahaya.
Ledakan itu bukan hanya soal PT TGI. Ia adalah soal bagaimana energi modern hadir di tengah kehidupan warga. Jalur pipa membelah daerah, melewati jalan, dekat usaha kecil, dekat kendaraan yang parkir seadanya. Selama bertahun-tahun aman. Lalu satu sore, semuanya berubah.
Api membakar apa yang ada di sekitarnya. Truk. Sepeda motor. Bangunan usaha kecil. Jalan lintas Sumatra pun harus dihentikan sementara. Negara mendadak berhenti bergerak—hanya karena satu titik pipa.
Petugas datang. Polisi. Pemadam. Tim teknis.
Prosedur dijalankan. Gas ditutup. Api dikendalikan. Seperti buku manual yang akhirnya dibuka.
Beruntung, api tidak menjalar lebih jauh. Beruntung, tidak terjadi korban yang lebih besar. Tapi kata beruntung tidak pernah cukup untuk sebuah sistem energi.
Biasanya setelah kejadian seperti ini, kita akan sibuk mencari penyebab teknis. Itu penting. Sangat penting. Tapi ada pertanyaan lain yang sering terlewat:
apakah warga tahu mereka hidup berdampingan dengan pipa gas?
apakah jarak aman benar-benar aman?
apakah inspeksi hanya rutin, atau sungguh-sungguh?
Sore itu berlalu. Api padam. Jalan kembali dibuka.
Inderagiri Hilir kembali seperti biasa.
Namun, bagi mereka yang melihat semburan api itu dengan mata kepala sendiri, sore tidak lagi sekadar sore. Ia menjadi pengingat: bahwa kemajuan selalu datang bersama tanggung jawab—dan kelalaian, sekecil apa pun, selalu menunggu waktu.