๐ขTersedia Free Ongkir & Bayar di Tempat
Blok Masela bukan proyek yang bisa dikerjakan sambil lalu. Ia lahir jauh di timur Indonesia, di laut yang tidak ramah, ratusan kilometer dari daratan terdekat. Jauh dari pusat kekuasaan. Jauh dari sorotan. Tapi justru di sanalah tersimpan salah satu cadangan gas terbesar yang dimiliki negeri ini.
Bertahun-tahun Blok Masela hanya menjadi bahan diskusi. Berpindah dari satu konsep ke konsep lain. Offshore, floating, lalu onshore. Banyak yang ragu. Banyak yang menunggu. Terlalu besar. Terlalu mahal. Terlalu rumit. Tapi sejarah proyek besar memang selalu dimulai dengan keraguan.
Hari ini situasinya berbeda. Pemerintah sudah mengambil sikap. FEED sudah dimulai. Kontraktor desain sudah ditunjuk. Studi CCS sudah selesai. Artinya satu hal: Masela tidak lagi berada di tahap wacana. Ia sudah masuk jalur eksekusi.
Nilai investasinya tembus lebih dari USD 20 miliar. Kapasitas produksinya 9,5 juta ton LNG per tahun. Ditambah gas pipa dan kondensat. Lebih dari sekadar proyek LNG, Masela dirancang sebagai proyek LNG pertama di Indonesia yang sejak awal memasukkan Carbon Capture & Storage. Ini bukan hanya soal energi. Ini soal masa depan.
Masela juga bukan proyek satu paket. Ia terdiri dari laut dalam, pipa panjang, fasilitas darat raksasa, tangki kriogenik, pressure vessel, dan ribuan sambungan pipa. Artinya pekerjaan besar. Artinya keterlibatan banyak pihak. Artinya peluang jangka panjang bagi perusahaan yang siap secara teknis, keselamatan, dan komitmen.
Tahun 2025 menjadi penanda penting. Semua fondasi teknis sedang diletakkan. Tahun 2026โ2027 akan menjadi masa konstruksi besar-besaran. Pada titik itu, Masela tidak lagi mencari siapa yang paling cepat datang, tetapi siapa yang paling siap.
Blok Masela mengajarkan satu hal sederhana: proyek besar tidak menunggu semua orang. Ia hanya membuka pintu bagi mereka yang berani bersiap lebih awal.ย
Afwan hamka
6 Januari 2026
Artikel lain :ย